Selasa, 27 November 2012

Daihatsu Terios, Mobil Sahabat Petualang

Daihatsu Terios, Mobil Sahabat Petualang
Akhir Kisah Luar Biasa Tim Terios 7 Wonders
Taklukan Jalanan Panjang 3.657 km dalam 15 Hari

                Tampak rapi berjajar deret mobil perkasa Daihatsu Terios di kawasan VLC Sunter Jakarta. Bersiap sigap dalam kemudi beriring derung bunyi mesin mobil yang indah mendenggungu tim Terios 7 Wonders tampak binar penuh harapan mata para anggota yang tersusun dari Tunggul Birawa sebagai Pemimpin, Insuhendang, Ismail Ashland, Bimo S Soeryadi, Aseri, Arizona Sudiro, Toni, Enuh Witarsa, Endi Supriatna, Rokky Irvayandi (ADM), serta David Setyawan (ADM)
                Kala pidato singkat upacara pembukaan usai dibacakan dan bersambut gaung bunyi tanda dimulanya sebuah perjalanan panjang dari tim Terios 7 Wonders. Sebuah rangkaian perjalanan panjang dengan jarak tempuh 3.657 kilometer dan waktu tempuh selama 15 hari. Sebuah rangkaian perjalanan panjang dari tim Terios 7 Wonders dimulai dari VLC Sunter Jakarta menuju titik akhir ke Pulau Sabang. Sebuah rangkaian perjalanan panjang dari tim Terios 7 Wonders yang tentunya menguras tenaga, menguji daya tahan, dan menghadirkan sensasi pengalaman yang luar biasa.
                Peualangan tim Terios 7 Wonders menempuh jalanan sepanajang 3.657 kilometer dalam selang 15 hari menjadi sebuah bukti nyata dari ketangguhan Daihatsu Terios sebagai mobil sahabat petualang. Ketangguhan Daihatsu Terios sebagai mobil sahabat petualang membuatnya mampu menempuh perjalanan panjang dan medan berat yang harus dilalui tanpa kendala berarti. Daihatsu Terios bersama dengan rombongan tim Terios 7 Wonders menjadikan sebuah petualangan melintas pulau, mendaki bukit dan gunung, serta menuruni lembah sebagai sebuah pengalaman yang sangat berkesan yang solah hanya mampu dilakukan oleh sebuah maha karya industi otomotif tanah air.
                Sebuah rangkain petualangan Daihatsu Terios bersama dengan rombongan tim Terios 7 Wonders sekali lagi menjadi bukti akan kibar besar bendera kepercayaan para penguna mobil asal pabrikan jepang tersebut akan sebuah kualitas unggul yang dijanjikan dan secara kongkrit oleh sebuah produk otomotif yang akan selamanya memiliki tenpat dihati masyarakat Indonesia, Daihatsu Terios. Petualangan Daihatsu Terios bersama tim Terios 7 Wonders adalah sebuah kisah yang meski harus berakhir secara fisik pada kesempatan ini, namun tidak di hati para anggotanya dan sahabat petualang Daihatsu Terios yang lain, melaikan awal dari sebuah perjalanan baru.
Tampak derung mesin senantiasa menemani selama petualangan panjang 3.657 kilometer selama 15 hari perlahan namun pasti menghilang dalam senyap akhir dari sebuah kisah. Beranjak dari kemudi dan dalam mobil satu per satu dari anggota tim Terios 7 Wonders yang tampak gagah perkasa luar biasa kala rombongan berhasil mendaratkan keempat roda Daihatsu Terios di tugu “Nol” Kilometer Pulau Sabang tepat kala jarum jam membidik di angka 12 lebih 48 menit waktu Indonesia bagian barat pada 24 Oktober 2012.
                Bersambut hangat sorak sorai para hadirin dan masyarakat setempat yang menyuarakan ucapan selamat datang di tugu “Nol” Kilometer. Jabat hangat para petinggi PT Astra Daihatsu Motor (ADM) yang pada kesempatan bahagia tersebut diwakili oleh Amelia Tjandra, Elvina Afny, Rio Sanggau, serta Guntur Mulja. Tampak pula sejumlah wartawan nasional yang coba mengabadikan peristiwa tersebut. Terdengar ucap selamat dan terima kasih pada tim Terios 7 Wonders atas keberhasilan perjalanan panjang tanpa kendala berarti serta ikrar bukti Terios sebagai SUV yang tangguh terwakili dalam pidato singkat komentar Sang Direktur Marketing PT ADM, Amelia Tjandra.
Masih beriring sebuah perayaan singkat atas keberhasilan yang diraih sebagai wujud syurur atas kuasa Tuhan yang Maha Kuasa atas perlindunga-Nya selama perjalanan, prosesi berlanjut dengan serak terima papan nama Terios 7 Wonders oleh Tunggul Birawa, Sang Pemimpin Tim kepada Amelia Tjandra, Sang Direktur Marketing PT ADM, yang kemudian diestafetkan kepada Dr. Togu Wakil Pemda Sabang. Prosesi kian meriah bersambut tepuk tangan para hadirin kala Plakat ditanam di sekitar lokasi tugu Nol Kilometer.
                Dilanjutkan dengan berfoto bersama, kemudian meluncur menuju Anoi Itam Resort Sabang guna jamuan santap siang nikmat berselera. Usai sudah kisah perjalanan panjang tim Terios 7 Wonders taklukan jalanan panjang 3.657 kilometer dalam 15 hari dengan kepergian penutup akhir para anggota ke pelaburan ferry Baloha menuju kapal cepat terakhir di Pulau Rondo kala sang arloji yang senantiasa melingkar pada sisi dalam lengan kiri menujuk tepat pada arah jarum jam 4 sore waktu Indonesia bagian barat (ECH).

Untuk informasi lebih lanjut silahkan kunjungi Terios 7 Wonders

Kamis, 22 November 2012

The Power of Social Media for Small Business


The Power of Social Media for Small Business
Prasetiya Mulya Business School

                Tak-tak-tak-tak bunyi jemari lentik Arisa (21) beradu dengan tuts keyboard pada komputer jinjing mungil yang setia menemani hari-harinya. Sambil sesekali melihat kea rah langit-langit kamarnya yang di hiasi lukisan gambar langit senja coba mengingat siapa-siapa nama rekanan yang belum tertuang. Tertuang dalam baris panjang yang menjejali hampir setengah layar si komputer jinjing mungil, tertuang dalam baris yang semula tampak sempit pada bingkai warna biru berpadu biru mudah sebuah jejaring sosial terkemuka, tertungang dalam jendela aplikasi browser ke bertuliskan tag’.
Seperti biasa ritual upload dan tag gambar ke rekanan dilalulinya dengan susana sore kala menyendiri dalam istana berukuran emapat kali lima meter persegi kekuasaanya. Tampak masih terdekap dalam busana handuk putih dan rambut panjang yang terbelit handuk senada keatas seusai keluar dari kamar mandi. Usai memastikan dengan benar tak ada satupun nama rekanan yang terlewatkan untuk dituliskan dan telah membubuhkan kata keramat harga istimewa persediaan terbatas, ujung jari kanannya yang dihiasi cat kuku merah muda yang sedikit terkelupas menekan tombol enter secara perlahan.
                Dalam hitungan nano second, pesan darinya teah diterima ratusan rekanannya yang tersebat bagai bintang di malam gelap di seluh pelosok tanah air tercinta. Sebuah pesan singkat sarata makna yang bertujuan tunggal, yakni menawarkan sebuah produk baru dari toko online miliknya. Sebegitu cepatnya dunia berputar pagi menjad malam, dan malam menjadi pagi kembali, apa yang dihapkan oleh setiap umat manusia termudahkan oleh bantuah tumbuh kembang laju pesat perubahan zaman dan pemutahiran teknologi.
                Sebuah terobosan yang dibangun dari dua tiga generasi menjadikan dunia kini berada pada tataran yang tak bersekat. Sebuah dunia sebagai potret rumah yang sangat amat besar beratap langit berlantaikan tanah, es, dan air, sebuah rumah yang bias dengan bebas kita masuki setiap pintunya, setiap pintu yang membawa kita pada perjalan baru akan ragam budaya dan karakter bangsa yang berbeda. Sebuah kemajuan yang menuntut pemahaman ekstra akan keberakaragaman dan keberbudayaan yang berbeda, sebuah pemahana ektra untuk saling melepas ego dan membebasakn diri dari pikir sempit tata cara kuno dank keras kepala mempertahankan apa yang tak patut dipertahankan.
                Kemajuan teknologi mempertemukan Arisa dan jejaring sosial di kehidupan yang telah di gariskan Sang Maha Pemilik Hidup. Sebuah suratan takdir yang menyimpan beribu makna dan harapan yang coba simpan oleh Sang Maha Mengetahui. Sebuah teka teki yang takkan terjawab jika tak coba dilalui dan dinikmati, sebuah teka teki yang hingga suatu waktu yang hanya Sang Penguasa Alam Smesesta berkenan utuk membaginya. Sebuah teka teki yang coba dijawab oleh seorang anak manusia cantik bertumbuh berkembang dengan caranya sendiri, dengan mengunakan jejasing sosial sebagai media promosi bisnisnya.
                Sebagai sebuah negera yang terus berkembang semenjak saya dan mungkin anda dilahirkan, Indonesia tumpah darah kita tercinta, merupakan sebuah raksasa yang sedang tertidur, mendekap erat bantal dan gulingnya seraya mengingau meminta memohon untuk dibangunkan, dibangunkan oleh sosok luar biasa para entrepreneur guna memajukan perekonomianya. Perlu sedikitnya tiga persen dari sejumlah eksponensial dengan potensi tak hingga sebab setiap hari, jam, menit, detik terus bertamah, dari penduduk Indonesia sebagai entrepreneur guna mebangkitkan tidur panajang sang raksasa, guna mengaungkan kembali suara lantang singa asia yang dulu perna menjadi milik kita bersama.
Sebuah impian mulia yang bersambut upaya nyata terbukti dan teruji selama kurang lebih tiga puluh tahun, dan rencananya akan mengikuti jejak sang maestro penyair muda kebangaan bangsa yang tak perlu saya sebut namanya sebab sudah pasti seluruh rakyat akan bergetar hati dan lisanya kala mendengar sebait puisinya yang juga menjadi harapan Prasetiya Mulya Business School, yakni ‘aku akan hidup seratus tahun lagi’. Prasetiya Mulya Business School telah mengabdi untuk ibu pertiwi sejak 1982, sebagai bentuk nyata kontribusi anak bangsa yang tergabung dalam komunitas bisnis Indonesia. Prasetiya Mulya Business School bersama program Magister Administrasi Bisnis-nya, sebuah sumbangsih nyata pada Indonesia (ECH).

Untuk informasi lebih lanjut silahkan kunjungi Prasetiya Mulya Business School

Rabu, 21 November 2012

Mari Jo Jaga Torang Pe Budaya Kisah Tari Pingkan-Matindas Minahasa


Mari Jo Jaga Torang Pe Budaya
Kisah Tari Pingkan-Matindas Minahasa
Ini Milik Bangsaku Jangan Berani Kau Mengusik Menganggu
                Terlahir dengan paras yang cantik dan hati yang mulia, seorang gadis kecil Minahasa bernama Pingkan (12) tengah diuji dengan sakit keras. Beragam ahli pengobatan didatangkan demi menyembuhkan sang gadis cantik malang yang kini tergolek lemah diranjang, namun belum seorang pun berhasil mengetahui terlebih menyembuhkan apa yang diderita.
                Hingga pada suatu kesempatan datanglah seorang pemuda bernama Matindas, Matindas yang tulus berupaya semata-mata untuk menolong orang yang membutuhkan bantunya tersebutnya akhirnya berhasil menyembuhkan sang gadis. Tangis air mata bahagia dan ribuan kata terima kasih dari sang gadi dan keluarnganya menglir deras pada sosok pemuda sederhana tersebut.
Seiring berjalanya waktu, kedekatan yang terjalin diatara sang pemuda dan sang gadis berbuah manis hubungan asmarah, hingga pada puncaknya dipersatuknlah keduanya dalam sebuah mahliga rumah tangga dalam satu ikatan perkawinan. Hari-hari dilalui keduanya sebagai sepasang suami istri dengan suka cita dan rasa sukur yang senantiasa membingkai di hati dan bibir keduanya. Hingga tiba pada sebuah hari kelabu dimana patung Pingkan yang dibuat Matindas sebagai kado pernikahan dan bukti besar cintanya lenyap kala pergi bernelayan. Patung yang sengaja diletakkan dibagian ujung muka kapal guna senantiasa meneguhkan hatinya kala berlayar mengarung laut lepas, kala dihempas badai dan diterjang ombak ganas selalu memberikannya kekuatan untuk bertahan dan kembali pulang.
                Nasib buruk belum berakhir sampai disitu, sebab takdir mempertemukanya dengan gerombolan para perompak kejih yang kala itu tengah menyerbu pesisir pantai Minahasa, situasi semakin sulit manakala tipu muslihat dan taktik licik para perompak menyudutkanya hingga terkepung dan tertawanlah dirinya. Mendekam berhari-hari hingga berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan membuat hati sang istri yang tak mengetahui akan terjadinya hal buruk tersebut merasa sepi. Sembari terus meneteskan air mata mengiba dalam doa pada sang kuasa sang suami akan usai mencari nafkah, sang istri dengan sabar menunggu.
Sebuah wujud ketulusan yang mengalir indah dari hati suci seorang istri, rasa cintanya pada sang sumi yang besar, tidak pernah mengeluh oleh keadaan hidup, meski sang suami miskin dan sebatang kara.
Sebuah untaian kata indah yang senantiasa terucap dari bibir mungilnya kala tersebut oleh bisik sindir oleh mereka yang tak perna mengerti, bahwa kekayaan dan kemulian, boleh hilang sebentar saja, tetapi kasih sayang istri pada suami takkan hilang dirundung waktu.
Terhanyut bersama debur air laut yang menyentuh bibir pantai, patung yang hilang ditemukan oleh seorang nelayan. Sebuah patung indah dari seorang nelayan diberikan sebagi pesembahan bagi rajanya yang tengah berulang tahun, Raja Bolaang Mongondow yang bernama Loloda Mokoagow tampak begitu tertarik dengan hadiah patung yang diterimanya. Rasa takjubnya pada patung tersebut membawa pikiranya melayang terbang jauh menembus mimpi, dalam mimpinya dilihat sesosok wanita menyerupai patung. Atas penglihatan mimpinya, dibentuk dan utusnya sekawanan perajurit gagah perkasa terlatih khusus untuk menemukan sosok asli wanita yang didamba.
Sebuah pencarian panajang yang berujung dengan dipertemukanya sekawanan perajurit dengan sosok wanita dambaan sang Raja, sosok tersebut tak lain dan tak bukan adalah Pingkan. Bersama rombongan prajurit tersebut, Sang penasihat Raja memberanikan diri tampih guna mengutarak sebuah tawaran sulit dan mengoda pada sang wanita. Bujuk rayu dari janji-janji manis yang diutai lewat kata-kata sang penasihat Raja tampaknya tang menggoyahkan kokoh pendirian sang wanita. Serangkain jawaban bernada sama senantiasa terlontar dari bibir mungi sang wanita, rangkain baik perkataan yang erat digenggam dan dijadikan pedoman hidup, bahwa cinta tidak bisa dibeli dengan uang.
Usai panantian panjang bertemu dengan sang suami yang dibingkai dengan tangis haru, dekap erat, dan kata-kata kesal yang dapat dengan jeas terdengar sebab bunyi ‘he’ dan ‘mm’ tampil medominasi. Berhasilnya sang suami melarika diri dari jerat para perompak dan kisah tawaran sang raja menjadi cerita canda menutup mata kala kini ranjang kedunya telah kembali terisih penuh oleh tubuh dan jiwa keduanya yang merasa lelah. Berharap sebuah awal kisah yang baru sepakat keduanya pindah ke Maaron sebuah daerah di wilayah Kema, Minahasa Utara, dan harapan itu pun terwujud, disana mengahabiskan selusur sisa usia keduanya dalam bahagia dengan sang suami sebagai Tonaas
Air mata tampak membasahi pipi para peserta yang hadir pada Festival Kebudayaan Indonesia yang diselengarakan www.senibudayakita.com tersebut, terdengar bunyi siul, beriring tepuk tanggan, bahkan Standing Applouse dari para perwakilan dari Negara tetangga kala usai pemutaran sebuah film karya anak bangsa yang dikemas lura biasa. Sebuah film yang bercerita tentang asal muasal Tari Pingkan-Matindas Minahasa. Pagelaran pun ditutup dengan sebuah pertunjukan yang ditunggu-tunggu, yang tak lain tak bukan merupakan pertunjukan Tari Pingkan-Matindas Minahasa (ECH).
Disadur dan diceritakan ulang dari karya Chandra. D. Rooroh
untuk generasi penerus, untuh bangsa kita tercinta, untuk Indonesia

Untuk informasi lebih lanjut silahkan kunjungi www.senibudayakita.com